ESG Framework and Standards: Tentukan yang Tepat untuk Perusahaan

  • Levner Consulting
  • October 14, 2026
  • SNE

ESG bukan lagi sekadar persoalan menyusun sustainability report. Perusahaan semakin dituntut untuk dapat menunjukkan bagaimana isu environmental, social, dan governance diidentifikasi, dikelola, diukur, serta diungkapkan secara konsisten.

Di titik ini, penentuan ESG framework and standards menjadi penting. Namun, banyaknya acuan yang tersedia justru dapat menimbulkan pertanyaan baru: apakah perusahaan harus menggunakan semuanya?

Jawabannya tidak.

Setiap framework atau standard memiliki tujuan, sudut pandang, dan kebutuhan informasi yang berbeda. Karena itu, tantangan perusahaan bukan mengumpulkan sebanyak mungkin framework, tetapi menentukan acuan yang paling relevan dengan tujuan bisnis, material topics, stakeholder, dan kebutuhan disclosure.

Memahami Perbedaan Framework dan Standard

Istilah framework dan standard sering digunakan secara bersamaan, meskipun keduanya tidak selalu memiliki fungsi yang sama.

Secara sederhana, framework dapat dipahami sebagai kerangka untuk membantu organisasi menentukan bagaimana suatu isu dianalisis, dikelola, atau dikomunikasikan. Sementara standard memberikan struktur, prinsip, atau persyaratan yang lebih spesifik mengenai informasi yang perlu disiapkan atau diungkapkan.

Perbedaannya menjadi penting ketika perusahaan mulai menyusun ESG reporting atau mempersiapkan assessment.

Misalnya, perusahaan dapat menggunakan GRI untuk memperkuat pengungkapan mengenai dampak perusahaan terhadap stakeholder, menggunakan GHG Protocol untuk pengukuran emisi, dan menggunakan IFRS S1 atau S2 untuk kebutuhan informasi sustainability dan climate yang berorientasi pada pengguna laporan keuangan.

Artinya, satu framework tidak harus menggantikan framework lainnya.

ESG Framework and Standards yang Perlu Dipahami

Perusahaan tidak harus mempelajari seluruh framework yang ada. Beberapa acuan berikut sudah cukup untuk memahami bagaimana ekosistem ESG bekerja.

1. GRI Standards

GRI merupakan salah satu acuan yang banyak digunakan dalam sustainability reporting. Pendekatannya membantu organisasi mengungkapkan dampak aktivitas perusahaan terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.

GRI juga berkaitan erat dengan proses identifikasi material topics, sehingga relevan bagi perusahaan yang ingin membangun disclosure berdasarkan isu yang paling signifikan bagi aktivitas dan stakeholder mereka.

Pendekatan ini berguna ketika perusahaan ingin menjawab pertanyaan seperti:

  • Apa dampak utama kegiatan perusahaan?
  • Siapa stakeholder yang terdampak?
  • Isu ESG apa yang dianggap material?
  • Bagaimana perusahaan mengelola dampak tersebut?

2. IFRS S1 dan IFRS S2

IFRS Sustainability Disclosure Standards memiliki orientasi yang berbeda. Fokus utamanya adalah informasi sustainability-related yang relevan bagi pengguna laporan keuangan.

IFRS S1 membahas sustainability-related financial disclosures secara umum, sedangkan IFRS S2 secara khusus berfokus pada informasi terkait iklim.

Pendekatan ini membantu perusahaan menghubungkan isu sustainability dengan risiko, peluang, strategi, dan prospek bisnis.

Dengan demikian, isu ESG tidak lagi diperlakukan sebagai informasi terpisah dari bisnis, tetapi mulai dilihat dari kemungkinan dampaknya terhadap perusahaan secara finansial.

3. GHG Protocol

Untuk isu perubahan iklim, GHG Protocol merupakan acuan penting dalam penghitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca.

Pendekatannya membagi emisi menjadi:

  • Scope 1: emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan;
  • Scope 2: emisi tidak langsung yang berasal dari energi yang dibeli;
  • Scope 3: emisi tidak langsung lainnya yang berada dalam value chain.

Penggunaan acuan yang konsisten penting karena kualitas data emisi akan memengaruhi berbagai kebutuhan berikutnya, mulai dari penyusunan baseline hingga penetapan target dekarbonisasi dan climate disclosure.

4. TCFD dan Climate-related Disclosure

TCFD menjadi salah satu referensi penting dalam perkembangan pengungkapan risiko dan peluang terkait perubahan iklim.

Pendekatannya melihat climate issue melalui empat area utama, yaitu governance, strategy, risk management, serta metrics and targets.

Meskipun perkembangan standar climate disclosure saat ini semakin terintegrasi dengan IFRS S2, pemahaman terhadap pendekatan TCFD tetap berguna untuk memahami bagaimana risiko fisik, transition risk, scenario analysis, serta climate strategy dikaitkan dengan pengambilan keputusan bisnis.

Apakah Perusahaan Harus Menggunakan Semua Framework?

Tidak.

Justru penggunaan terlalu banyak framework tanpa arsitektur yang jelas dapat membuat proses ESG menjadi tidak efisien. Perusahaan bisa mengumpulkan data yang sama berkali-kali, membuat disclosure yang tumpang tindih, atau memiliki banyak indikator tetapi tidak memahami bagaimana informasi tersebut digunakan.

Pemilihan ESG framework and standards sebaiknya mempertimbangkan setidaknya lima hal.

  • Tujuan perusahaan
    Apakah framework dibutuhkan untuk sustainability reporting, investor disclosure, climate management, customer requirements, atau ESG assessment?
  • Material topics
    Framework harus dikaitkan dengan isu yang memang material bagi organisasi, bukan sekadar karena framework tersebut populer.
  • Stakeholder
    Investor, regulator, pelanggan, masyarakat, dan business partner dapat membutuhkan informasi yang berbeda.
  • Ketersediaan data
    Perusahaan perlu mengetahui apakah data tersedia, siapa pemiliknya, bagaimana metode pengumpulannya, dan apakah terdapat evidence yang memadai.
  • Kesiapan governance
    Informasi ESG membutuhkan ownership yang jelas, mekanisme review, approval, serta koordinasi lintas fungsi.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat membangun framework mapping yang menunjukkan hubungan antara material topics → indikator → data → evidence → disclosure → owner.

Dari Framework Menjadi Sistem ESG

Memilih framework sebenarnya baru langkah awal.

Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan persyaratan atau ekspektasi framework menjadi sistem yang benar-benar berjalan di organisasi.

Misalnya, perusahaan dapat memiliki target pengurangan emisi. Namun, target tersebut membutuhkan baseline yang jelas, data aktivitas, metodologi perhitungan, pemilik data, mekanisme monitoring, dan proses evaluasi.

Hal yang sama berlaku untuk aspek sosial dan governance. Pernyataan mengenai employee development, human rights, business ethics, atau supply chain responsibility perlu didukung oleh kebijakan, proses, data, serta evidence yang dapat ditelusuri.

Karena itu, implementasi ESG membutuhkan keterhubungan antara framework, governance, process, data, dan performance.

Contoh Penerapan GRI dalam Assessment Perusahaan

Pemilihan framework akan memiliki nilai lebih ketika diterjemahkan ke dalam kondisi aktual perusahaan.

pendampingan sustainability report

Dalam salah satu proyek Levner, GRI digunakan sebagai framework dalam pengelolaan dan evaluasi aspek ESG perusahaan. Pendekatannya tidak hanya melihat apakah informasi tertentu sudah tersedia, tetapi juga melihat kesenjangan pada aspek yang mendukung pemenuhan kebutuhan framework.

Proses tersebut dapat mencakup pemetaan informasi yang tersedia, identifikasi gap, evaluasi data dan evidence, serta penentuan area yang masih perlu diperkuat.

Pendekatan seperti ini membantu perusahaan memahami hubungan antara framework dengan praktik ESG yang benar-benar berjalan di organisasi.

Dengan demikian, framework dapat digunakan sebagai dasar untuk melihat bukan hanya apa yang perlu dilaporkan, tetapi juga apa yang perlu diperbaiki dalam governance, data, proses, dan implementasi ESG.

Jangan Menjadikan Framework sebagai Checklist

Salah satu risiko dalam penerapan ESG adalah mengubah framework menjadi checklist yang harus dicentang sebanyak mungkin.

Pendekatan tersebut dapat menghasilkan banyak indikator dan dokumen, tetapi belum tentu menghasilkan pengelolaan ESG yang lebih baik.

Framework seharusnya membantu perusahaan memahami isu yang material, informasi yang dibutuhkan, kinerja yang perlu dipantau, serta area yang membutuhkan improvement.

Karena itu, penggunaan beberapa framework sekaligus juga perlu dilakukan secara terintegrasi. Data yang sama sebaiknya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berbeda apabila metodologi, ownership, dan quality control-nya memungkinkan.

Pada akhirnya, kualitas penerapan ESG tidak ditentukan oleh berapa banyak framework yang digunakan perusahaan.

Yang lebih penting adalah apakah framework tersebut dapat diterjemahkan menjadi data yang reliable, governance yang jelas, proses yang berjalan, dan disclosure yang dapat dipertanggungjawabkan.

FAQ

  • Apa yang dimaksud dengan ESG framework and standards?

ESG framework and standards adalah berbagai kerangka dan acuan yang membantu perusahaan mengelola, mengukur, dan mengungkapkan informasi terkait environmental, social, dan governance. Masing-masing memiliki tujuan dan fokus yang berbeda.

  • Apakah perusahaan wajib menggunakan semua ESG framework?

Tidak. Perusahaan sebaiknya memilih framework berdasarkan tujuan ESG, material topics, kebutuhan stakeholder, kebutuhan disclosure, serta kesiapan data dan governance. Menggunakan lebih banyak framework tidak otomatis menunjukkan maturity ESG yang lebih tinggi.

  • Apa perbedaan GRI dan IFRS S1/S2?

GRI terutama membantu perusahaan mengungkapkan dampak aktivitasnya terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. IFRS S1 dan S2 berfokus pada informasi sustainability dan climate yang relevan bagi pengguna laporan keuangan, sehingga memiliki orientasi yang lebih kuat terhadap financial materiality.

  • Bagaimana menentukan ESG framework yang paling sesuai?

Perusahaan dapat memulainya dengan menentukan tujuan ESG, material topics, kebutuhan stakeholder, kebutuhan disclosure atau assessment, serta kesiapan data dan governance. Setelah itu, framework yang relevan dapat dipetakan terhadap indikator, data, evidence, dan proses internal.

Ingin Bisnis Anda Lebih Terstruktur & Tersertifikasi?

Tim ahli kami siap bantu Anda capai standar terbaik untuk bisnis Anda.

Konsultasi Sekarang