Pasar karbon Indonesia mulai bergerak dari fase membangun infrastruktur kebijakan menuju mekanisme pasar yang semakin matang. Perkembangan ini terlihat dari semakin kuatnya perhatian terhadap perdagangan karbon, unit karbon, pelaporan, serta tata kelola aktivitas yang berkaitan dengan karbon.
Salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan korporasi adalah hadirnya POJK 10/2026, yang membawa perkembangan baru dalam kerangka perdagangan karbon dan pelaporan terkait.
Bagi perusahaan, perubahan ini penting karena karbon semakin tidak hanya menjadi isu lingkungan. Ketika unit karbon dapat diperdagangkan dan aktivitasnya berada dalam kerangka regulasi yang semakin berkembang, data, governance, dan carbon asset mulai memiliki relevansi bisnis yang lebih besar.
Dari Infrastruktur Kebijakan ke Mekanisme Pasar
Perkembangan pasar karbon Indonesia sebelumnya banyak berfokus pada pembangunan fondasi regulasi dan infrastruktur yang memungkinkan aktivitas karbon dapat dicatat dan diperdagangkan.
Dengan perkembangan regulasi terbaru, perhatian mulai bergeser pada bagaimana pasar tersebut dapat berfungsi secara lebih terstruktur.
POJK 10/2026 menjadi bagian dari perkembangan tersebut, termasuk melalui ketentuan terkait perdagangan karbon, unit karbon yang dapat diperdagangkan, serta kebutuhan pelaporan sesuai ruang lingkup regulasinya.
Perubahan ini menunjukkan satu hal penting: carbon market semakin membutuhkan transparency, accountability, dan market governance.
Apa Artinya bagi Korporasi?
Implikasinya bukan berarti setiap perusahaan harus langsung masuk ke aktivitas perdagangan karbon.
Yang lebih penting adalah perusahaan mulai memahami bagaimana perkembangan pasar tersebut dapat berhubungan dengan aktivitas dan posisi bisnisnya.
Ada tiga area yang semakin relevan.
1. Carbon Data
Perusahaan membutuhkan data karbon yang dapat ditelusuri dan memiliki dasar perhitungan yang jelas.
Data emisi, aktivitas, faktor emisi, maupun informasi terkait unit karbon perlu dikelola secara konsisten. Semakin besar kebutuhan pelaporan dan transaksi, semakin penting kualitas data yang digunakan.
2. Governance & Reporting
Ketika karbon masuk ke dalam mekanisme pasar, tanggung jawabnya tidak ideal jika hanya berada pada satu fungsi sustainability.
Perusahaan perlu mempertimbangkan siapa yang memiliki data, siapa yang melakukan review, bagaimana approval dilakukan, serta bagaimana informasi karbon dilaporkan dan dikendalikan.
Dengan demikian, carbon management mulai bersinggungan dengan risk management, finance, compliance, dan corporate governance.
3. Carbon Asset Readiness
Perusahaan yang memiliki atau berencana terlibat dalam aktivitas terkait unit karbon juga perlu memahami posisi carbon asset yang dimiliki atau dapat diakses.
Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak unit karbon yang tersedia, tetapi juga bagaimana status, pencatatan, penggunaan, dokumentasi, dan risiko terkait unit tersebut dikelola.
Saatnya Melihat Carbon Market sebagai Isu Bisnis
Perkembangan regulasi menunjukkan bahwa pasar karbon Indonesia semakin membutuhkan perusahaan yang mampu mengelola karbon secara lebih terstruktur.
Karena itu, kesiapan tidak harus dimulai dari keputusan untuk melakukan transaksi. Perusahaan dapat terlebih dahulu melakukan carbon market readiness assessment untuk memahami posisi saat ini.
Assessment dapat melihat:
- kualitas dan kesiapan carbon data;
- governance dan pembagian tanggung jawab;
- kesiapan pelaporan;
- posisi serta dokumentasi carbon asset;
- kesesuaian proses dengan perkembangan regulasi;
- peluang dan risiko yang mungkin muncul dari aktivitas carbon market.
Pendekatan ini membantu perusahaan melihat carbon market secara lebih strategis, bukan hanya sebagai perkembangan regulasi yang perlu dipantau.
Carbon Market Semakin Membutuhkan Credibility
Makin matang sebuah pasar, makin tinggi kebutuhan terhadap informasi yang dapat dipercaya.
Bagi pasar karbon Indonesia, perkembangan POJK 10/2026 menjadi salah satu bagian dari proses menuju ekosistem yang semakin terstruktur. Bagi korporasi, implikasinya adalah kebutuhan untuk mulai memperkuat data, governance, reporting, dan kesiapan carbon asset.
Karbon perlahan bergerak dari sekadar metrik lingkungan menjadi bagian dari keputusan bisnis dan pengelolaan risiko.
Pertanyaannya bukan lagi hanya apakah perusahaan akan terlibat dalam carbon market, tetapi apakah perusahaan sudah memiliki fondasi yang cukup kredibel ketika peluang atau kewajiban tersebut semakin dekat.
