Rencana Bisnis RJPP: Jangan Asal Jadi!

Lagi persiapan nyusun Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), tapi masih bingung apa aja yang harus dimuat di dalam dokumennya? Tenang, karena kamu ga sendiri! Banyak perusahaan yang menyusun RJPP sekadar untuk “menggugurkan” kewajibannya, tanpa memastikan apakah isinya strategis dan relevan untuk masa depan bisnis. Padahal, RJPP adalah fondasi utama dari rencana bisnis yang berkelanjutan. Di artikel ini, kamu akan menemukan penjelasan tentang komponen penting yang harus masuk dalam rencana bisnis dan kesalahan umum yang sering terjadi dalam penyusunan RJPP. Yuk, simak penjelasannya agar RJPP perusahaan mu lebih terarah.

Menyusun konsep rencana bisnis RJPP

Menyusun Rencana Bisnis RJPP

Apa Itu RJPP? Mengapa Penting untuk Perusahaan?

Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) atau sering dikenal juga dengan istilah lain seperti corporate plan atau business plan merupakan suatu dokumen perencanaan bisnis yang biasanya disusun oleh sebuah perusahaan untuk jangka waktu 5-10 tahun ke depan. Secara singkatnya, RJPP adalah panduan atau “kompas” strategis untuk mencapai visi-misi perusahaan dengan lebih terarah.

Tahukah kamu? Khusus untuk perusahaan BUMN dan BUMN, penyusunan RJPP ini diwajibkan lho! Berdasarkan regulasi KEP-102/MBU/2002, seluruh BUMN di Indonesia wajib menyusun RJPP. Jadi, apabila perusahaanmu termasuk ke dalam anak perusahaan BUMN, itu artinya perusahaanmu juga ikut diwajibkan dalam penyusunan RJPP ini. Baca juga soal regulasi kewajiban BUMN untuk menyusun RJPP disini.

Meskipun begitu, bukan berarti perusahaan selain BUMN dan BUMD ga perlu nyusun RJPP. Penyusunan rencana bisnis ini sangat penting untuk semua jenis perusahaan, bahkan perusahaan swasta sekali pun. Tanpa rencana bisnis ini, perusahaan bisa kehilangan arah dan tujuan.

Komponen Wajib dalam Rencana Bisnis RJPP

Perusahaan perlu memastikan bahwa arah strategis perusahaan tercermin dalam RJPP. Sebelum menyusun RJPP, yuk simak apa saja komponen utama yang wajib ada di dalamnya, agar rencana bisnis perusahaan lebih terstruktur dan terarah.

1. Visi & Misi Perusahaan

Kunci utama untuk memandu ke mana arah perusahaan bergerak adalah menentukan visi misi. Jika visi perusahaan menjawab “Apa yang ingin dicapai perusahaan dalam jangka panjang?”, maka, misi lebih berfokus pada “Bagaimana cara perusahaan mencapai tujuan tersebut?”. Penting untuk memastikan bahwa visi-misi yang disusun tidak hanya idealis, tapi juga relevan dengan dinamika industri dan aspirasi stakeholder perusahaan.

2. Arah Kebijakan & Strategi Perusahaan

RJPP harus mencerminkan arah strategis dan kebijakan yang akan dijalankan dalam 5 tahun ke depan. Mulai dari prioritas bisnis, rencana ekspansi, hingga inovasi yang akan dijalankan perusahaan semuanya harus dipastikan terarah dan realistis. Hindari rencana bisnis yang terlalu umum dan abstrak, karena rencana yang baik adalah rencana yang bisa dieksekusi.


3. Roadmap
Implementasi
Strategi tanpa eksekusi hanya akan menjadi sebuah wacana. Maka dari itu, roadmap implementasi juga penting untuk dimasukkan ke dalam RJPP. Roadmap berguna menjelaskan bagaimana strategi akan dijalankan secara konkret dari tahun ke tahun. Roadmap ini berisi milestone, indikator kinerja atau KPI, serta rencana kerja tahunan. Dengan begitu, strategi dalam RJPP dapat terimplementasi dengan baik.
4. Kesesuaian dengan Regulasi dan Stakeholder

Terakhir, pastikan kesesuainnya dengan arah kebijakan dari regulator, pemilik saham, maupun stakeholder lainnya. Rencana bisnis yang baik harus memperhatikan GCG (Good Corporate Governance), keberlanjutan, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Sehingga, rencana bisnis yang disusun bukan hanya ambisius, tapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan hukum.

Kesalahan Umum Menyusun RJPP

Ternyata, masih banyak perusahaan yang menyusun RJPP secara terburu-buru, hanya untuk “melunasi” kewajiban. Akibatnya, dokumen RJPP tidak mencerminkan visi-misi perusahaan secara menyeluruh.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan umum yang dilakukan perusahaan ketika menyusun RJPP. Yuk simak, agar perusahaan mu tidak mengulang hal yang sama!

1. Copy-Paste dari Dokumen Sebelumnya

Kesalahan ini sering terjadi ketika perusahaan hanya menyalin RJPP sebelumnya, tanpa melakukan evaluasi secara menyeluruh. Padahal, kondisi eksternal maupun target perusahaan bisa saja sudah berubah. Sehingga, rencana bisnis tidak lagi relevan.

2. Tidak Disusun Berdasarkan Data dan Analisis

RJPP yang disusun tanpa riset pasar, evaluasi kinerja, analisis SWOT, atau analisis lainnya akan membuat rencana bisnis cenderung bersifat asumtif. Akibatnya, strategi bisnis yang dirancang menjadi tidak relevan dan kurang aplikatif.

3. Tidak Sinkron dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)

Jika RJPP tidak diturunkan secara konkret ke dalam RKAP, rencana jangka panjang dan jangka pendek akan berjalan sendiri-sendiri. Hal ini membuat implementasi strategi menjadi tidak terarah dan sulit diukur.

4. Mengabaikan Regulasi dan Arahan Stakeholder

Menyusun RJPP yang tidak mengacu pada regulasi atau masukan pemegang saham, berisiko mengalami revisi yang berulang, bahkan ditolak saat proses review.

Pastikan rencana bisnis perusahaanmu tidak hanya lengkap tapi benar-benar selaras dengan visi misi masa depan.

Masih bingung harus mulai dari mana untuk menyusun RJPP yang tepat? Levner siap mendampingi perusahaanmu menyusun RJPP yang selaras dengan arah dan tujuan bisnis!

Cek juga lebih lanjut tentang layanan Levner dalam penyusunan RJPP.

Ingin Bisnis Anda Lebih Terstruktur & Tersertifikasi?

Tim ahli kami siap bantu Anda capai standar terbaik untuk bisnis Anda.

Konsultasi Sekarang