Sebuah peluang bisnis dapat terlihat menjanjikan, tetapi keputusan untuk mengembangkannya tetap membutuhkan dasar analisis yang kuat. Terlebih ketika rencana tersebut melibatkan investasi, teknologi, model bisnis baru, atau beberapa pihak dengan peran yang berbeda.
Di sinilah studi kelayakan bisnis dibutuhkan.
Studi kelayakan merupakan proses untuk menilai apakah suatu rencana memiliki dasar yang memadai untuk dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang relevan. Kajian dapat mencakup kebutuhan pasar atau pengguna, aspek teknis, operasional, finansial, kelembagaan, pembiayaan, hingga risiko.
Namun, kelayakan tidak selalu berarti sekadar menentukan apakah sebuah proyek “layak” atau “tidak layak”. Pada proyek yang kompleks, kajian juga perlu menjawab model seperti apa yang sesuai, kondisi apa yang perlu dipenuhi, serta bagaimana rencana tersebut dapat diimplementasikan dan dikembangkan.
Mengapa Studi Kelayakan Bisnis Penting?
Salah satu tantangan dalam pengambilan keputusan bisnis adalah adanya asumsi yang belum tervalidasi.
Permintaan dianggap tersedia, model bisnis dianggap dapat berjalan, organisasi dianggap siap, atau kebutuhan investasi diperkirakan berdasarkan referensi yang belum tentu sesuai dengan kondisi proyek.
Studi kelayakan membantu menguji asumsi tersebut secara lebih sistematis.
Hasil kajian dapat membantu organisasi:
- memahami kebutuhan dan potensi proyek;
- mengidentifikasi kebutuhan sumber daya dan investasi;
- menilai kesiapan teknis maupun kelembagaan;
- membandingkan alternatif pengembangan;
- memahami risiko dan faktor penghambat; serta
- menyusun dasar yang lebih kuat untuk keputusan investasi dan implementasi.
Karena itu, feasibility study bukan hanya digunakan ketika perusahaan ingin mengetahui potensi keuntungan. Kajian juga dapat dibutuhkan ketika organisasi sedang merancang model baru yang belum memiliki referensi implementasi yang cukup.
Baca Juga: Mengenal Feasibility Study & 5 Jenisnya dalam Bisnis
Aspek yang Perlu Dianalisis
Ruang lingkup studi kelayakan bisnis tidak selalu sama. Kedalamannya perlu disesuaikan dengan karakteristik proyek dan keputusan yang ingin dihasilkan.
Beberapa aspek yang dapat dikaji meliputi:
Kebutuhan dan Potensi
Analisis dimulai dengan memahami kebutuhan yang hendak dijawab. Ini dapat berupa kebutuhan pelanggan, kebutuhan energi, kebutuhan pasar, atau kebutuhan sektor tertentu.
Baseline yang jelas membantu memastikan bahwa solusi yang dirancang benar-benar berangkat dari kondisi yang relevan.
Aspek Teknis
Aspek teknis digunakan untuk memahami apakah solusi dapat diterapkan berdasarkan karakteristik lokasi, teknologi, kapasitas, infrastruktur, dan kebutuhan teknis lainnya.
Kelembagaan dan Operasional
Pada proyek yang melibatkan organisasi atau komunitas tertentu, kesiapan kelembagaan juga dapat menjadi bagian dari kelayakan.
Kajian dapat melihat peran pihak yang terlibat, kesiapan organisasi, serta kebutuhan penguatan untuk menjalankan model yang dirancang.
Finansial dan Pembiayaan
Analisis finansial membantu memahami kebutuhan investasi, biaya, potensi manfaat ekonomi, serta skema pembiayaan yang diperlukan.
Aspek finansial sebaiknya dibangun berdasarkan hasil analisis teknis dan operasional, bukan berdiri sebagai proyeksi angka yang terpisah dari kondisi proyek.
Model Bisnis dan Implementasi
Pada proyek dengan pendekatan bisnis baru, kajian juga perlu melihat bagaimana model tersebut dapat dijalankan.
Hasilnya dapat diterjemahkan menjadi model bisnis, roadmap implementasi, serta rekomendasi pengembangan atau replikasi.
Contoh Studi Kelayakan Bisnis: Model PLTS Berbasis Koperasi
Salah satu contoh studi kelayakan bisnis yang Levner handle adalah pada kajian pengembangan PLTS berbasis koperasi di wilayah pedesaan bersama klien.
Inisiatif tersebut diarahkan untuk mendorong pengembangan PLTS sebagai bagian dari transisi energi sekaligus mendukung sektor produktif pedesaan.
Namun, sebelum model dikembangkan lebih lanjut, terdapat beberapa kebutuhan yang perlu dijawab.
Belum tersedia baseline kebutuhan energi yang memadai. Pemetaan kesiapan koperasi juga belum tersedia secara menyeluruh. Di sisi lain, belum terdapat model bisnis PLTS yang tervalidasi dari perspektif teknis, finansial, dan kelembagaan.
Kondisi tersebut membuat pertanyaan kajian menjadi lebih luas daripada sekadar apakah teknologi PLTS dapat digunakan.
Yang perlu dipahami adalah model PLTS berbasis koperasi seperti apa yang paling sesuai dengan kebutuhan energi, kesiapan kelembagaan, serta kondisi teknis dan finansial pada lokasi studi.
Bagaimana Kajian Dikembangkan?
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, kajian mencakup beberapa komponen yang saling berkaitan.
Pertama, dilakukan pemetaan kebutuhan energi pada sektor produktif pedesaan untuk membangun baseline kebutuhan energi.
Kedua, dilakukan asesmen kesiapan koperasi untuk memahami kondisi kelembagaan yang akan mendukung model.
Ketiga, dilakukan studi kelayakan teknis dan finansial pada lokasi studi untuk memahami kesesuaian solusi dan kebutuhan pembiayaannya.
Keempat, hasil analisis digunakan untuk merancang model bisnis PLTS berbasis koperasi, sehingga aspek teknis dan kelembagaan dapat diterjemahkan ke dalam model yang dapat dikembangkan.
Kelima, kajian dilengkapi dengan analisis pembiayaan, roadmap implementasi, dan rekomendasi pengembangan serta replikasi.
Dengan pendekatan tersebut, feasibility study tidak berhenti pada satu kesimpulan. Hasilnya diarahkan untuk menyediakan dasar bagi pengambilan keputusan investasi, penyusunan kebijakan, pengembangan model bisnis, dan replikasi program di wilayah dengan karakteristik berbeda.
Dari Studi Kelayakan Menuju Keputusan Bisnis
Contoh tersebut menunjukkan bahwa studi kelayakan dapat menjadi jauh lebih kompleks ketika proyek melibatkan teknologi, kebutuhan pengguna, kelembagaan, pembiayaan, dan rencana replikasi sekaligus.
Baseline kebutuhan energi memengaruhi rancangan solusi. Kondisi teknis dan kelembagaan memengaruhi model implementasi. Model bisnis kemudian berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan dan keberlanjutan pengembangan.
Karena itu, nilai sebuah feasibility study bukan hanya pada banyaknya data yang dikumpulkan, tetapi pada kemampuan kajian tersebut menghubungkan berbagai informasi menjadi dasar keputusan yang dapat digunakan.
Pada akhirnya, studi kelayakan membantu organisasi memahami bukan hanya apakah suatu peluang dapat dikembangkan, tetapi dengan model seperti apa, berdasarkan kondisi apa, dan melalui langkah apa pengembangannya dapat dilakukan.
Bagi organisasi yang membutuhkan kajian serupa, pendekatan Business Management & Strategy dapat digunakan untuk mengembangkan feasibility study sesuai karakteristik proyek, kebutuhan keputusan, dan tingkat kompleksitas analisis yang diperlukan.
FAQ
- Apa itu studi kelayakan bisnis?
Studi kelayakan bisnis adalah kajian untuk menilai apakah suatu rencana bisnis, proyek, investasi, atau pengembangan model tertentu memiliki dasar yang memadai untuk dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek yang relevan.
- Apa saja yang dianalisis dalam studi kelayakan bisnis?
Aspek yang dianalisis dapat meliputi kebutuhan atau pasar, teknis, operasional, kelembagaan, finansial, pembiayaan, model bisnis, dan risiko. Ruang lingkupnya disesuaikan dengan karakteristik proyek.
- Apa contoh studi kelayakan bisnis?
Salah satu contohnya adalah kajian pengembangan PLTS berbasis koperasi di pedesaan yang mencakup pemetaan kebutuhan energi, asesmen kesiapan koperasi, kelayakan teknis dan finansial, model bisnis, analisis pembiayaan, serta roadmap implementasi.
- Apakah studi kelayakan hanya menentukan proyek layak atau tidak?
Tidak. Pada proyek yang kompleks, kajian juga dapat digunakan untuk memahami alternatif model, kebutuhan yang harus dipenuhi, risiko, skema pembiayaan, serta langkah implementasi dan replikasi.
- Kapan studi kelayakan bisnis diperlukan?
Studi kelayakan dapat diperlukan sebelum investasi, pengembangan model bisnis, pembangunan proyek, ekspansi, pengembangan teknologi, maupun inisiatif lain yang membutuhkan keputusan berbasis analisis.
- Apa manfaat studi kelayakan bagi pengambilan keputusan?
Studi kelayakan membantu organisasi menguji asumsi, memahami kebutuhan dan risiko, membandingkan alternatif, serta memperoleh dasar yang lebih terstruktur sebelum menentukan arah investasi atau pengembangan.

