Apa yang Berubah dalam SBTi Corporate Net-Zero V2.0?

  • Levner Consulting
  • August 13, 2026
  • SNE

Selama beberapa tahun terakhir, net zero berkembang dari sebuah agenda keberlanjutan menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim.

Perusahaan mulai menetapkan target pengurangan emisi, menyusun komitmen net-zero, dan membangun strategi dekarbonisasi. Namun, semakin banyak organisasi yang memiliki target bukan berarti semakin banyak pula yang benar-benar siap mencapainya.

Di sinilah pendekatan terhadap net zero emissions mulai mengalami perubahan.

Dengan hadirnya Corporate Net-Zero Standard V2.0 dari Science Based Targets initiative (SBTi), pembahasan mengenai net zero semakin menekankan pentingnya kemampuan perusahaan untuk menerjemahkan target iklim menjadi langkah nyata.

Pertanyaannya tidak lagi berhenti pada:

“Apakah perusahaan sudah memiliki target net zero?”

Tetapi bergerak menjadi:

“Apakah organisasi benar-benar siap untuk mencapai target tersebut?”

Perubahan perspektif ini penting. Sebab, target net zero pada akhirnya tidak dicapai melalui dokumen strategi saja, tetapi melalui sistem organisasi yang mampu memahami gap, menentukan arah, menjalankan program, serta membuktikan dampaknya.

Apa Itu Net Zero?

Net zero adalah kondisi ketika emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dapat dikurangi secara signifikan hingga mencapai tingkat yang sangat rendah, sementara emisi residual yang tersisa diseimbangkan melalui penghilangan emisi yang sesuai dengan prinsip net-zero.

Dalam konteks perusahaan, perjalanan menuju net zero emissions membutuhkan transformasi terhadap cara organisasi mengelola emisi dan aktivitas bisnisnya.

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya menghitung emisi dan menetapkan angka target.

Perusahaan perlu memahami:

  • dari mana emisi berasal;
  • seberapa besar emission gap yang harus ditutup;
  • apa hambatan dalam proses dekarbonisasi;
  • siapa yang bertanggung jawab;
  • program apa yang harus dijalankan;
  • bagaimana kemajuan diukur; dan
  • bagaimana impact yang dihasilkan dapat dibuktikan.

Di titik ini, net zero berubah dari sekadar target sustainability menjadi organizational capability.

Baca Juga: Emisi GRK: Studi Masterplan di Sektor Perbankan

SBTi Corporate Net-Zero Standard V2.0 dan Perubahan Pendekatan Net Zero

Corporate Net-Zero Standard V2.0 dari SBTi membawa pembahasan net zero ke arah yang lebih berorientasi pada bagaimana perusahaan dapat menjalankan perjalanan dekarbonisasinya.

Perubahan tersebut penting karena menetapkan target emisi hanyalah satu bagian dari perjalanan.

Perusahaan tetap membutuhkan kemampuan untuk menjawab pertanyaan yang lebih operasional:

  • Apa yang harus dilakukan untuk menutup emission gap?
  • Bagaimana strategi tersebut diintegrasikan ke dalam bisnis?
  • Siapa yang memiliki tanggung jawab atas pencapaiannya?
  • Bagaimana progress dan impact-nya akan dipantau?

Dengan perspektif tersebut, keberhasilan net zero tidak hanya bergantung pada kualitas target, tetapi juga pada kemampuan organisasi dalam merencanakan, menjalankan, dan membuktikan kemajuan dekarbonisasi.

Net Zero Bukan Lagi Sekadar Menetapkan Target

Menetapkan target net zero memang penting. Namun, target tanpa kemampuan eksekusi berisiko menjadi sekadar angka dalam sustainability strategy.

Bayangkan perusahaan menetapkan target pengurangan emisi yang ambisius.

Kemudian muncul pertanyaan:

  • Apakah baseline emisinya cukup kuat?
  • Apakah kualitas datanya dapat dipercaya?
  • Apakah sumber emisi utama sudah dipahami?
  • Apakah perusahaan mengetahui emission gap yang harus ditutup?
  • Apakah roadmap dekarbonisasi sudah tersedia?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas setiap program?
  • Bagaimana investasi dan keputusan bisnis akan mendukung target?
  • Bagaimana perusahaan mengetahui bahwa program yang dilakukan benar-benar menghasilkan impact?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan net zero sebenarnya membutuhkan tiga kemampuan utama:

Understand → Organize → Execute

Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan untuk Net Zero?

Menghadapi tuntutan dekarbonisasi yang semakin kompleks, perusahaan dapat mulai membangun capability melalui tiga pertanyaan utama.

1. Apakah perusahaan memahami masalahnya?

Mulai dari baseline, kualitas data, sumber emisi, emission gap, hingga hambatan dekarbonisasi.

2. Apakah perusahaan memiliki organisasi untuk menjalankannya?

Pastikan governance, ownership, roadmap, dan integrasi dengan strategi bisnis sudah jelas.

3. Apakah perusahaan mampu menghasilkan dan membuktikan impact?

Program dekarbonisasi harus dijalankan, dimonitor, dan dievaluasi berdasarkan hasil yang terukur.

Ketiga hal tersebut membentuk alur:

Problem Solving → Organizing → Execution Impact

Inilah pendekatan yang membuat net zero bergerak dari ambisi menjadi kemampuan organisasi.

Framework Levner dan Perjalanan Perusahaan Menuju Net Zero

Pendekatan tersebut juga menjadi relevan dengan framework SNE – Levner, yang melihat sustainability bukan hanya sebagai persoalan target, tetapi sebagai kemampuan organisasi dalam memecahkan masalah, mengorganisasi sumber daya, dan menghasilkan impact.

Net Zero sebagai Transformasi Bisnis

Pada akhirnya, net zero bukan hanya agenda lingkungan.

Perjalanan menuju net zero dapat memengaruhi bagaimana perusahaan menggunakan energi, mengelola operasional, mengambil keputusan investasi, mengembangkan supply chain, serta menentukan prioritas bisnis.

Karena itu, keberhasilan net-zero strategy membutuhkan keterlibatan organisasi secara menyeluruh.

Perusahaan perlu membangun sistem yang mampu menghubungkan data, strategi, governance, implementasi, dan impact.

Semakin kompleks target dekarbonisasi yang ingin dicapai, semakin penting kemampuan tersebut.

Baca Juga: Shadow Rating: Apa dan Bagaimana Cara Bekerjanya

Kesimpulan

Net zero bukan lagi hanya tentang menetapkan target pengurangan emisi. Tantangan sebenarnya adalah membangun kemampuan organisasi untuk mencapai dan membuktikan target tersebut.

Corporate Net-Zero Standard V2.0 dari SBTi membawa pembahasan tersebut ke konteks yang semakin relevan bagi perusahaan: bagaimana organisasi dapat membangun pendekatan yang lebih terstruktur untuk menjalankan perjalanan dekarbonisasi.

Untuk melakukannya, perusahaan perlu memulai dari pemahaman terhadap emission gap dan kualitas data, kemudian membangun governance, ownership, dan transition roadmap, sebelum memastikan strategi tersebut menghasilkan impact yang terukur.

Melalui pendekatan Problem Solving, Organizing, dan Execution Impact, perjalanan menuju net zero dapat dipandang bukan sekadar sebagai komitmen sustainability, tetapi sebagai proses membangun organizational capability.

Karena pertanyaan terpenting mengenai net zero pada akhirnya bukan lagi:

“Apakah perusahaan memiliki target?”

Melainkan:

“Apakah organisasi siap untuk benar-benar deliver target tersebut?”

Ingin Bisnis Anda Lebih Terstruktur & Tersertifikasi?

Tim ahli kami siap bantu Anda capai standar terbaik untuk bisnis Anda.

Konsultasi Sekarang